Minggu, 21 Agustus 2011

PERUBAHAN PARADIGMA GURU MENGAJAR KE SISWA BELAJAR MATEMATIKA


Pendahuluan
Mengajar matematika dari sejak lama mendasarkan pada asas stimulus respon (S-R). Perolehan pengetahuan dari sekumpulan S-R, bila dikumpulkan menjadi sejumlah pengetahuan dan makin kuat bila diberi penguatan. Karena matematika itu hirarkis, maka tahap belajar disusun secara hirarkis dari yang sederhana ke yang kompleks. Tujuan mengajar adalah pencapaian belajar yang perumusannya dapat diamati dan diukur. Untuk itu ciri paradigma mengajar adalah: Informasi (termasuk definisi dan sifat), diikuti contoh soal,dan kemudian diberi soal-soal yang pada umumnya mirip dengan contoh soal. Dengan demikian drill/latihan nampak dominan, evaluasi hasil belajar tertuju ke pencapaian belajar sesuai/tidaknya dengan tujuan yang dirumuskan.
Dari fakta menunjukkan, tahun demi tahun hasil ujian matematika selalu rendah, hasil lomba matematika tidak sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Secara implisit berarti siswa gagal dalam memahami topok-topik matematika. Kegagalan ini bisa disebabkan karena guru mengajar terlalu cepat (mengejar target kurikulum) sehingga pemahaman siswa tidak cukup waktu untuk berkembang, atau pembelajarannya tidak sesuai dengan tahap-tahap berpikir anak. Terlalu dini mengintroduksi konsep formal bisa menyebabkan tertundanya kemajuan dari pada menguatkan konsep.
Dari situasi tersebut perlu adanya perubahan orientasi dari mengajar agar matematika dipahami siswa , menjadi mengajar agar siswa belajar bagaimana belajar matematika .

Paradigma Belajar Matematika
Pembelajaran adalah membantu siswa untuk membangun konsep-konsep atau prinsip-prinsip dengan kemmapuan sendiri melalui proses internalisasi sehingga konsep-konsep/prinsip itu terbangun kembali. Dalam pembentukan pemahaman terhadap konsep/prinsip perlu difasilitasi bahwa kondisi lingkungan belajar tersedia dengan memadai. Pelajar dikatakan aktif belajar, bila pelajar berkemauan belajar dan belajar dilakukan bukan karena diinstruksikan untuk belajar. Pengajar dikatakan aktif mengajar bila pengajar melaksanakan bimbingan dan memberikan arahan belajar kepada pelajar dengan kualitas dan kuantitas yang tinggi, karena pengajar perlu melakukannya.
Menurut Owen (1998:106) siklus belajar pada tahap pertama adalah experiencing, para siswa harus secara aktif dilibatkan dalam belajar. Mereka harus dapat menggunakan apa yang ada dalam aktivitas itu untuk berpikir secara matematis. Pada tahap discussing, reaksi dan observasi yang dibangun dari proses pengalaman perlu dibagikan (to be shared) kepada teman lain. Penjelasan, justifikasi, dan negosiasi makna melalui komunikasi akan membantu siswa mengevaluasi dan mengharapkan mendapatkan validasi tentang pengetahuan yang dibagikan (to be shared). Pada tahap generalisasi (Generalising) para siswa perlu membangun pengetahuan mereka sendiri melalui konstruksi individual dan interaksi dengan komunitas mereka, yang mengindikasikan hipotesis pengetahuan mereka saat ini. Hipotesis atau generalisasi ini kemudian akan diuji kelangsungannya melalui situasi problematik yang lain. Pada tahap penerapan (applying), perencanaan dan penerapan bagaimana menggunakan generalisasi yang diterima atau generalisasi yang baru akan divalidasi menjadi pengetahuan yang dapat berjalan terus (viable), atau disarankan untuk ditolak, dan mungkin akan mulai suatu siklus baru.
Hudojo (2003) menggambarkan proses rekonstruksi yang dilakukan siswa yang merupakan modifikasi dari hubungan antara pengetahuan subyektif dan obyektif yang dikemukakan Ernest (1991) melalui dua tahap, yaitu pengetahuan obyektif matematika direpresentasikan siswa dengan mengkonstruk melingkar yang ditunjukkan dengan alur mengkaji/menyelidiki, menjelaskan, memperluas, dan mengevaluasi sehingga terjadi rekonstruksi matematika sebagai konsepsi awal. Konsepsi awal sebagai hasil rekonstruksi individu tersebut merupakan pengetahuan subyektif matematika. Pengetahuan subyektif matematika tersebut dikolaborasikan dengan siswa lain, guru, dan perangkat belajar (siswa-siswa-guru-perangkat belajar) sehingga terjadi rekonstruksi sebagai hasil dari proses scaffolding. Matematika yang dikonstruksi sebagai hasil dari proses scaffolding yang direpresentasikan kelompok tersebut merupakan pengetahuan baru yaitu konsepsi siswa setelah belajar, sehingga menjadi pengetahuan obyektif matematika.

Contoh:
Konsep setengah dapat dibangun dengan cara siswa di hadapkan pada worksheet berikut, Siswa diminta mengarsir tiap-tiap persegi panjang yang menunjukkan setengah, seperempat, dsb
Konsep luas daerah dapat dibangun dengan cara siswa dihadapkan pada kertas bertitik untuk menggambar bangun sebanyak-banyak dengan luas misalnya 3, 4, atau 5 satuan luas.
Apabila pembelajaran jenis-jenis tersebut dilakukan maka kemampuan siswa untuk melakukan eksplorasi pengetahuan matematika akan terlatih, dan akibatnya tujuan pembelajaran matematika untuk meningkatkan kemampuan intelektual tingkat tinggi siswa sekolah dasar akan dapat diwujudkan.
Untuk mendukung kemampuan siswa dalam mengeksplorasi pengetahuan matematika, penekananan kemampuan BACA, TULIS, DAN HITUNG, hendaknya dimaknai sebagai kemampuan membaca matematika, kemampuan menulis matematika, dan tentunya kemampuan menghitung.
Ketrampilan membaca matematika merupakan satu bentuk kemampuan komunikasi matematik dan mempunyai peran sentral dalam pembelajaran matematika. Melalui membaca siswa mengkonstruksi makna matematika sehingga siswa belajar bermakna secara aktif. Istilah membaca diartikan sebagai serangkaian ketrampilan untuk menyusun intisari informasi dari suatu teks. Ketrampilan membaca teks matematika siswa dapat diestimasi melalui kemampuan mereka menyampaikan secara lisan atau menuliskan kembali ide matematika dengan bahasanya sendiri

Contoh Ketrampilan membaca:
Sebuah foto berukuran 4 x 6 cm, diperbesar 3 kali, berapa keliling foto setelah diperbesar.
Rumah Gita dan Rumah Gani berselang 7 rumah berada di deretan nomor genap. Rumah Gani bernomor 46, berapa nomor rumah Gita?

Proses Pembelajaran Matematika SD
Karena matematika SD mendasari belajar matematika selanjutnya, saran-saran diarahkan pada pendidikan matematika di SD
1.     Aspek interaksi pengajar dan pelajar harus tinggi
·        Menghindarkan pelajar menghafal secara mekanistik konsep-konsep matematika
·        Pengajar membantu pelajar untuk berpikir tentang apa yang dipelajari pelajar, sehingga kemampuan pelajar dapat dikontrol
·        Pengajar memberikan waktu yang cukup untuk berpikir kepada pelajar agar dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan.
·        Pengajar perlu seringkali memberikan pengalaman sukses kepada pelajar pada tingkat kemampuannya
·        Pengajar membantu pelajar agar dapat merasa bahwa kesalahan yang dibuat bukanlah hal yang jelek, tetapi sebagai pengalaman belajar yang baik
2.     Aspek kualitas dan kuantitas tugas
·        Menghindarkan belajar konsep yang tidak mengaitkan konsep yang sedang dipelajari dan telah dipelajari
·        Memberikan konsep matematika dengan mengkonstruksi, menyusun notasi, perbedaan dan variasi, dan menghubungkan suatu konsep dengan konsep lain
3.     Proses mengajar harus aktif dengan menggunakan pertanyaan (bahasa) yang memungkinkan dapat menggiring pelajar untuk belajar.
4.     Latihan soal perlu dibagi menjadi 2 yaitu drill latihan menghafal sehingga siswa menjawab cepat, dan latihan menyelesaikan masalah

Penilaian yang Komprehensif
Penilaian keberhasilan siswa yang menggambarkan prestasi siswa tidak hanya sekedar ditunjukkan oleh hasil tes atau ujian, tetapi juga dimonitornya secara terus menerus dan komprehensif dari semua kegiatan yang dilakukan siswa selama pembelajaran berlangsung.Untuk itu perlu dibuat criteria untuk menilai apa yang telah dipelajari yaitu:
1.     Kelancaran: indikasinya adalah berapa banyak solusi yang dapat dihasilkan siswa dalam memecahkan masalah
2.     Fleksibilitas: Berapa banayak ide matematika yang berbeda  dikemukakan siswa
3.     Keaslian : Berapa derajat keaslian ide yang ia kemukakan
4.     Elegansi : derajat keunggulan ide yang dikemukakan.
5.     Pemahaman konseptual : kemampuan menjelaskan keterkaitan antar konsep atau prinsip
6.     Pemahaman procedural : bagaimana hasil pekerjaan siswa, bagaimana menjelaskan hasil tersebut dan mampu menunjukkan proses mendapatkan hasil itu.
7.     Kompeten dalam strategi: Kemampuan dalam memformulasikan, menyatakan dan menyelesaikan tugas.
8.     Penalaran yang adaptif: mampu berpikir logis, merefleksi, menjelaskan, dan menjustifikasi
9.     Disposisi produktif : bagaimana kecenderungan siswa dalam melihat matematika sebagai kegunaan, kebermaknaan, keyakinan dan efektifitas dirinya.

Penutup
Perubahan paradigma dari mengajar ke belajar merupakan antisipasi belajar yang berorientasi pada kurikulum berbasis kompetensi. Aktifitas siswa direpresentasikan dengan cara mengkonstruk pengetahuaan matematika. Aktifitas Guru direpresentasikan dengan cara melakukan scaffolding dan menjadi fasilitator. Yang paling penting adalah sikap guru untuk mau berubah.

Sumber Bacaan:
Hudojo, Herman. 2003. Guru Matematika Konsruktivis, Makalah: Disajikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika “Perubahan Paradigma dari Paradigma Mengajar ke Paradigma Belajar”, Yogyakarta : USD 27-28 Maret 2003
NCTM, 2000. Principles and Standards for School Mathematics .USA. The NTCM
Owens, O; Perry, B; Conroy, J; Howe, P, 1998. Responsiveness and Affective Processes in The Interactive Construction of Understanding in Mathematics. Educational Studies in Mathematics, 35, 105-127
Soedjadi, R .2000. Kiat Pendidikan Matematika di Indonesi:Konstatasi Keadaan Masa Kini Menuju Harapan Masa Depan.  Jakarta: Dirjen Dikti, Depdiknas.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar